Jumat, Juli 19

Pendapa Agung Trowulan, Tempat Paling Bersejarah Nusantara

Pendapa (Pendopo) Agung Trowulan adalah salah satu tempat yang paling bersejarah di Indonesia.

Kenapa Nanyak sebut sebagai tempat atau bangunan paling bersejarah di Indonesia?

Hal ini tak lain karena Pendapa Agung Trowulan yang terletak di Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur ini diyakini sebagai pusat pemerintahan kerajaan Majapahit, sebuah kerajaan terbesar dan terkuat di Asia Tenggara dari abad ke-13 hingga abad ke-16.

Patung Raden Wijaya di Pendapa Agung Trowulan
Patung Raden Wijaya di Pendapa Agung Trowulan

Di dalam Pendapa Agung Trowulan terdapat beberapa ruangan yang digunakan untuk berbagai keperluan oleh keluarga kerajaan, seperti ruang singgasana, ruang pertemuan, ruang resepsi, dan kamar tidur. Bangunan itu juga memiliki halaman yang luas tempat diadakannya upacara dan acara penting.

Di Pendapa Agung Trowulan ini juga Mahapatih Gajah Mada mengucapkan sumpah yang menggetarkan bumi Majapahit dan juga bumi Nusantara di kala itu.

Sumpah yang diucapkan oleh Gajah Mada tersebut adalah Sumpah Palapa.

Saat itu Gajah Mada yang diangkat menjadi Mahapatih menggantikan Mpu Nala bersumpah di tempat yang kini menjadi Pendopo Agung Trowulan di Dusun Ngelinguk, Desa Sentonorejo di depan Ratu Tribuana Tunggadewi.

Relief Sumpah Palapa Mahapatih Gajah Mada di Pendapa Agung Trowulan
Relief Sumpah Palapa Mahapatih Gajah Mada di Pendapa Agung Trowulan

“Lamun huwus kalah Nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring gurun, ring seran, Tanjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, Samana isun amukti palapa.”

Arti dari Sumpah Palapa Gajah Mada tersebut bisa diartikan secara umum sebagai berikut:

“ Saya bersumpah, sebelum saya bisa menaklukkan seluruh Nusantara, mengalahkan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang dibawah kekuasaan Majapahit, saya tidak akan memakan buah palapa.”

Bentuk Bangunan Pendapa Agung Majapahit

Pendapa Agung Trowulan adalah struktur persegi panjang besar dengan paviliun terbuka dan platform yang ditinggikan. Itu terbuat dari bata merah dan dihiasi dengan ukiran dan relief yang rumit. Bangunan ini dikelilingi oleh parit dan dinding yang terbuat dari batu.

Di dalam Pendapa Agung Trowulan terdapat beberapa ruangan yang digunakan untuk berbagai keperluan oleh keluarga kerajaan, seperti ruang singgasana, ruang pertemuan, ruang resepsi, dan kamar tidur. Bangunan itu juga memiliki halaman yang luas tempat diadakannya upacara dan acara penting.

Relief penobatan raden Wijaya sebagai Raja Majapahit Pertama di Pendopo Agung Trowulan
Relief penobatan raden Wijaya sebagai Raja Majapahit Pertama di Pendopo Agung Trowulan

Pendopo Agung Trowulan ini dibangun oleh Kodam V Brawijaya melalui Yayasan Bina Mojopahit pada 1964 hingga 1973. Bangunan Pendopo Agung Trowulan berbentuk joglo yang tiang utama atau soko gurunya beralaskan batu umpak peninggalan Kerajaan Majapahit. Di bagian belakang bangunan Pendopo Agung Trowulan terdapat dinding dengan relief mengisahkan sejarah Kerajaan Majapahit. Salah satu relief mengisahkan penobatan Raden Wijaya menjadi Raja Majapahit pada tanggal 15, bulan Kartika, tahun 1215 saka atau sekitar 10 November 1293.

Sedangkan di bagian belakang Pendopo Agung Trowulan terdapat bangunan joglo yang diyakini dulunya menjadi tempat Raja Brawijaya bersemedi untuk mendapatkan petunjuk membuka pemukiman di hutan tarik, yang jadi awal berdirinya Kerajaan Majapahit.

Masih di bagian belakang Pendopo Agung Trowulan Mojokerto, ada juga batu Gajah yang memiliki mitos yang unik.

Selain batu ini konon digunakan untuk mengikat Gajah, ada mitos yang dipercaya oleh penduduk setempat jika batu yang tertancap ke tanah tersebut tembus ke kolam segaran yang berada tak jauh dari lokasi Pendopo Agung Trowulan.

Batu Gajah Yang Terdapat Di Belakang Pendopo Agung Trowulan
Batu Gajah Yang Terdapat Di Belakang Pendopo Agung Trowulan

Saat ini, Pendapa Agung Trowulan adalah tujuan wisata populer dan situs sejarah penting di Indonesia. Ini telah ditetapkan sebagai Situs Warisan Budaya Nasional oleh pemerintah Indonesia dan saat ini sedang dalam upaya pemulihan dan pelestarian untuk memastikan kelangsungan hidupnya dalam jangka panjang.