Sabtu, Juli 13

Festival Seni Indonesia Berutur 2024, Mengajak Belajar Sejarah Melalui Teater

Gelaran Festival Teater seni Monolog indonesia bertutur 2024 mencapai titik akhir pada Sabtu
(26/8/23) yang bertempat di Candi Kidal, Tajinan, Kabupaten Malang, Acara yang dimulai pada (21/8/23) tersebut sukses digelar dengan Kamateatra Art Project sebagai host.

Sebuah festival yang mengutamakan ekosistem pemanfaatan kekayaan intelektual budaya bangsa atau warisan budaya sebagai sumber ilmu pengetahuan melalui berbagai kegiatan di bidang seni pertunjukan, seni rupa, film, dan seni media, di bawah arahan Direktur Artistik Melati Suryodarmo.

“Terselenggaranya acara ini berkat suport dari semua pihak yang terlibat dalam mensukseskan acara ini” tutur Direktur Artistik Melati Suryodarmo

“Mengalami Masa Lalu, Menumbuhkan Masa Depan” merupakan landasan spirit pergerakan budaya melalui pemanfaatan pengetahuan tentang Warisan Cagar Budaya dari masa prasejarah hingga masa Majapahit di abad ke-15 dan Warisan Budaya Tak Benda yang telah diakui oleh UNESCO.

Kiri Ki Sholeh bersama Kanan Direktur Artistik Melati Suryodarmo di Padepokan Mangun Dharma
Kiri Ki Sholeh bersama Kanan Direktur Artistik Melati Suryodarmo di Padepokan Mangun Dharma

Indonesia Bertutur 2024 mengadaptasi filosofi dari Subak sebagai sumber inspirasi bagi kerangka pemikiran dan konsep kegiatan.

“Subak tidak hanya milik Bali, dari sini kita belajar ilmu yang sudah sangat tua dan hampir dilupakan. Tri Hita Karana, manusia dengan sesama, manusia dengan alam dan manusia dengan pencipta.” Ungkapnya

Peserta Temu Seni Teater Monolog adalah para sutradara, aktor, dan penulis naskah muda dari berbagai wilayah di Indonesia, yang diundang untuk membangun percakapan, menguji ide-ide, dan menampilkan satu karya kolaborasi pendek pada akhir periode laboratorium.

Mereka yang diundang tidak hanya punya pengalaman berkarya terkait peninggalan masa lampau, tapi juga berorientasi pada praktik kontemporer yang visioner dalam versi yang berbeda-beda. Sebagai fasilitator adalah Yudi Ahmad Tajudin dan Sha Ine Febriyanti.

Dilokasi yang sama sarasehan dengan tema Harmoni Manusia dengan Alam, Sesama, dan Pencipta pada jam 15.00 WIB. Hadir sebagai pembicara adalah Dra. Premana W. Premadi, Ph.D., ahli astrofisika dan kepala Observatorium Bosscha, bersama Drs. M. Dwi Cahyono, M.Hum., arkeolog, sejarawan, dan akademisi. Sarasehan dan kedua pertunjukan tersebut terbuka untuk umum.

“Adanya acara seperti ini menambah wawasan mengenai sejarah dan budaya di indonesia. ” Tutur Ika Putri Warga lokal

Aktor Kadek Desi Nurani memerankan Dende
Aktor Kadek Desi Nurani memerankan Dende

Salah satu karya cerita lokal yang berjudul Dende dengan Sutradara Mulyadi dan Aktor Kadek Desi Nurani membuat suasana hati para penonton ikut terbawa.

Penampilaan karya yang lain juga tak kalah seru, melalui pertunjukkan seni ini banyak pesan yang disampaikan kepada penonton agar ikut menjaga sejarah dan budaya.